mitrasatunews.com – Lombok Timur – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai memperkuat kesiapan sektor pertanian menghadapi perubahan pola musim yang berpotensi memperpanjang periode kering. Dinas Pertanian setempat kini mendorong penambahan titik-titik sumber air sebagai langkah menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian di tengah mundurnya awal musim hujan, Senin (5/10/2026).
Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, menyebut ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diantisipasi. Pasalnya, sebagian petani sudah mulai menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya, sementara hujan belum menunjukkan pola seperti biasanya.
Untuk menjaga kebutuhan air tetap terpenuhi, pemerintah menyiapkan beragam infrastruktur yang dapat dimanfaatkan petani. Sarana tersebut mencakup sumur bor, sistem irigasi dengan pompa, dam parit, tempat penampungan air, serta jaringan pipa distribusi.
Menurut Fathul, pembangunan infrastruktur air dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan agar lahan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Program tersebut juga diarahkan ke wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kekurangan air lebih tinggi.
Beberapa kawasan seperti Pringgabaya, Sambelia, dan Suela menjadi bagian dari wilayah yang mendapat perhatian karena potensi keterbatasan air cukup besar. Penguatan sumber air di daerah tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan aktivitas budidaya ketika hujan belum turun secara optimal.
Fathul menjelaskan, kondisi di lapangan saat ini cukup beragam. Sebagian petani sedang mempersiapkan lahan, sedangkan lainnya masih menyelesaikan kegiatan pada komoditas tembakau. Situasi tersebut membuat kebutuhan terhadap kepastian pasokan air semakin penting menjelang masuknya periode tanam berikutnya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah perubahan waktu datangnya musim hujan. Pola yang sebelumnya dapat diperkirakan mulai memasuki musim penghujan pada periode tertentu kini mengalami pergeseran.
Secara umum, musim hujan di Lombok Timur berlangsung sekitar Oktober hingga Maret. Namun, awal turunnya hujan biasanya baru terasa sekitar pekan keempat November. Pergeseran pola cuaca membuat pemerintah harus menyiapkan skenario agar kegiatan pertanian tetap dapat berjalan meski hujan datang lebih lambat.
“Sekarang ada pergeseran musim, sehingga kita harus menyesuaikan kondisi di lapangan,” kata Fathul.
Karena itu, Dinas Pertanian tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga mendorong pemanfaatan secara maksimal terhadap sumber air yang telah tersedia. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pasokan air sampai kondisi cuaca kembali mendukung.
Perlindungan sumber air juga menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang. Masyarakat, terutama petani yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan mata air, diminta ikut menjaga lingkungan dengan melakukan penghijauan dan menanam pohon.
Fathul menegaskan keberlangsungan mata air tidak semata-mata bergantung pada program pemerintah. Peran masyarakat diperlukan untuk mempertahankan kawasan resapan dan mencegah kerusakan lingkungan yang dapat mengancam debit air.
Melalui kombinasi pembangunan sarana air, pengelolaan sumber daya yang tersedia, dan pelestarian lingkungan, pemerintah daerah berharap sektor pertanian Lombok Timur tetap mampu bertahan menghadapi ketidakpastian musim sekaligus meminimalkan risiko kekeringan terhadap petani.(aws)
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
Terkait
KaizerDan
Dapatkan Update Berita Terbaru
Langganan gratis — berita terkini langsung di inbox Anda.


















