mitrasatunews.com – Mataram – Semangat inovasi generasi muda Nusa Tenggara Barat kembali mendapat sorotan positif. Tiga mahasiswa Universitas Mataram asal Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, berhasil menorehkan prestasi membanggakan setelah meraih juara ketiga dalam ajang Business Plan Competition yang diselenggarakan oleh HIPMI NTB.
Ketiga mahasiswa tersebut, Muhamad Dicky Subagia, Aryanto Arbi, dan Zidni Ilman, tampil membawa gagasan usaha bertema peternakan berkelanjutan yang memadukan teknologi pakan alami dengan pemberdayaan masyarakat lokal.
Kompetisi ini diikuti oleh puluhan tim dari berbagai kampus dan komunitas entrepreneur muda di NTB. Seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti tahapan seleksi proposal bisnis sebelum akhirnya dipilih sejumlah tim terbaik untuk memasuki babak presentasi.
Dalam tahap tersebut, tim asal Masbagik berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui ide bisnis bernama “KroHerb”, sebuah konsep pakan ternak berbentuk pelet yang memanfaatkan kroto sebagai sumber protein utama dan dikombinasikan dengan bahan herbal alami.
Presentasi semifinal berlangsung di Camoris Coffee & Resto, Pagutan, Kota Mataram. Dari sepuluh tim yang lolos, hanya tiga kelompok terbaik yang berhak tampil di babak final yang digelar di Prime Plaza Hotel Mataram pada 13 Mei 2026.
Di hadapan juri dan investor, tim mahasiswa Universitas Mataram tersebut memaparkan solusi alternatif bagi peternak yang selama ini menghadapi tingginya harga pakan serta penggunaan bahan kimia sintetis pada industri peternakan.
Mereka menjelaskan bahwa produk KroHerb dikembangkan untuk menghadirkan pakan yang lebih sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan. Formula yang digunakan memanfaatkan campuran kroto, kunyit, jahe, serta daun kelor yang dikenal memiliki kandungan nutrisi tinggi dan baik untuk kesehatan ternak.
Sebelum dibawa ke kompetisi, ide tersebut telah melalui proses penelitian dan pengujian sederhana guna melihat efektivitas bahan alami sebagai pengganti sebagian komponen pakan komersial.
Selain fokus pada produk pakan, tim ini juga menawarkan konsep pengembangan kawasan eko-eduwisata berbasis masyarakat. Program tersebut dirancang sebagai pusat edukasi budidaya semut rangrang, produksi pakan herbal, hingga pengembangan usaha lokal yang dapat membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Muhamad Dicky Subagia mengatakan bahwa konsep yang mereka bangun diharapkan tidak hanya memberi keuntungan bisnis, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Menurutnya, kolaborasi antara sektor pertanian, peternakan, dan wisata edukasi dapat menjadi peluang baru yang potensial dikembangkan di daerah.
Prestasi yang diraih ketiga mahasiswa tersebut menjadi bukti bahwa anak muda daerah memiliki kemampuan bersaing melalui ide kreatif dan inovasi berbasis riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.(red)
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
